Tag Archives: Yogyakarta

Refleksi Pokso Pengungsi ‘Mandiri’ untuk Penanganan yang Berkelanjutan

Letusan Merapi 26 Oktober dan 4 – 5 November 2010 memaksa  lebih dari 280 ribu orang menjadi pengungsi internal (atau dalam bahasa Inggris disebut Internally Displaced Persons – untuk membedakannya dengan refugee = pengungsi lintas negara) di Daerah Istimewa Yogyakarta dan jawa Tengah.

Letusan besar Merapi berturut-turut di tanggal 4 malam – 5 dini hari, membuat warga yang sudah mengungsi di barak-barak pengungsian di radius 10 km dari Merapi harus mengosongkan barak-barak tersebut dan berpindah lagi secara terburu-buru dan mendadak ke  luar radius 20 km dari Merapi.  Ada lebih dari 250 posko pengungsian tersebar di D.I Yogyakarta, Kabupaten Klaten, Magelang dan Boyolali.

Warga masyarakat sigap membantu dan bahu membahu menolong saudara-saudara mereka warga lereng Merapi yang mengungsi, merelakan rumah dan kampung mereka sebagai tempat pengungsian, bergotong royong memasak untuk makan pengungsi, menyumbangkan segala yang mereka bisa sumbangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mendesak pengungsi.  Solidaritas warga ini yang kemudian di sebut sebagai posko-posko mandiri, untuk membedakannya dengan posko pengungsian yang dikoordinir oleh pemerintah.

Solidaritas warga terus mengalir seakan tiada habis untuk membantu meringankan beban mereka yang mengungsi, baik berupa barang, tenaga, maupun uang. Stasiun televisi yang ‘tugas sebetulnya’ adalah menyampaikan berita tentang apa yang dialami oleh keluarga-keluarga yang mengungsi, juga tidak mau ketinggalan bersolidaritas menggalang dana masyarakat untuk mereka salurkan sendiri kepada para pengungsi dan diberitakan. Berbagai kegiatan untuk meringankan beban dan kesedihan pengungsi dibuat oleh banyak relawan. Macam-macam kegiatannya dan sangat kreatif.

Permasalahan makanan untuk pengungsi yang kurang dan tidak sesuai, terutama untuk anak dan oranng lanjut usia; masalah air bersih dan kamar mandi yang tidak cukup; masalah kesehatan selama mengungsi;  masalah distribusi kebutuhan pengungsi yang tidak merata; masalah keamanan pengungsi dari kekerasan; masalah kebutuhan khusus orang difabel, manula, anak balita, perempuan; masalah kehilangan anggota keluarga; masalah ternak; masalah informasi tentang pengungsian dan kondisi Merapi  – – ini adalah sebagian dari sederetan permasalahan mengungsi yang muncul dan coba diselesaikan oleh pemerintah, pengurus posko pengungsian, relawan dan organisasi non pemerintah yang bekerja untuk tanggap darurat Merapi.

Pemerintah menurunkan status awas Merapi menjadi radius 15km dan 10km, lalu menurunkannya lagi menjadi status siaga.  Penurunan status bahaya Merapi ini disambut dengan rasa syukur oleh para pengungsi, syukur karena mereka sudah dibolehkan kembali ke rumah, syukur karena mereka bisa mulai memikirkan dan mengusahakan pemulihan kehidupan keluarga mereka. Banyak pengungsi yang sudah kembali ke rumah mereka atau pindah ke huntara (hunian sementara) yang sudah dibangun.

Janji pemerintah untuk program rehabilitasi dan pemulihan – yang beberapa diantaranya sudah dijanjikan saat kunjungan para pejabat pemerintah tersebut ke pengungsian / saat bertemu pengungsi- kini sangat ditunggu realisasinya.

Mengungsi adalah peristiwa yang mengubah hidup. Meskipun pengalaman traumatis yang disebabkan mengungsi yang harus berpindah-pindah tidak dapat dielakkan, tetapi para pengungsi harus mampu melanjutkan kehidupan normal mereka dengan mengusahakan suatu penyelesaian yang lebih berkelanjutan. Secara internasional, terdapat Prinsip-prinsip Panduan bagi Pengungsian Internal yang memuat prinsip bahwa pengungsi memiliki hak untuk penyelesaian masalah mereka yang lebih berkelanjutan.

Memfasilitasi solusi berkelanjutan mensyaratkan bahwa semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah nasional dan lokal serta lembaga kemanusiaan dan pengembangan masyarakat , bekerja sama, mengidentifikasi strategi dan kegiatan yang tepat untuk membantu pengungsi dan menetapkan kriteria sejauh apa yang penyelesaian yang berkelanjutan akan dicapai.

Sebuah penyelesaian berkelanjutan dapat dikatakan dicapai saat pengungsi tidak lagi membutuhkan bantuan khusus dan memerlukan perlindungan yang terkait dengan ke-pengungsian mereka dan perpindahannya dan orang yang mengungsi tersebut dapat menikmati hak-hak asasi mereka tanpa diskriminasi.

Pemerintah harus menggunakan pendekatan berbasis hak untuk mendukung penanganan pengungsi Merapi yang berkelanjutan, suatu pendekatan dan sikap yang menempatkan pengungsi sebagai subyek dan penentu bagi mereka sendiri. Para pengungsi itu sendiri yang harus menjadi aktor utama dalam proses mencari solusi berkelanjutan dari pilihan-pilihan yang mereka buat.

Sederhananya suatu pendekatan pemulihan dan rehabilitasi pengungsi dan kehidupannya yang berbasis hak harus memastikan bahwa: Pertama, pengungsi berada dalam posisi untuk membuat pilihan sukarela tentang pilihan penyelesaian yang berkelanjutan yang mereka ingin capai; Kedua, pengungsi berpartisipasi dalam perencanaan dan pengelolaan penyelesaian yang berkelanjutan, sehingga strategi pemulihan dan rehabilitasi menghormati hak-hak asasi manusia dan untuk pemenuhan hak-hak dan kebutuhan pengungsi; Ketiga, pengungsi memiliki akses ke sumber daya bantuan pemerintah dan non-pemerintah; Keempat, pengungsi memiliki akses untuk mekanisme pengawasan pemulihan dan rehabilitasi yang efektif.

Foto-foto berikut ini merekam pengalaman mengungsi di ‘POSKO MANDIRI’ di berbagai tempat di D.I. Yogyakarta.

——> Silakan klick pada gambar untuk cerita lebih lanjut.

Iklan

Hujan. Tugu Yogya. Kali Code

Hampir setiap hari, Yogyakarta hujan deras.

Hujan yang sangat deras  ini membawa was-was bagi warga Yogya yang tinggal di sekitar kali Code.

Was-was dan berjaga terhadap banjir lahar dingin di Kali Code.

Beberapa foto berikut merekam Tugu Yogya dan Kali Code di musim hujan ini.


Menghibur Pengungsi

Tanggap Bencana Merapi 2010 ini membuat hatiku cukup gembira. Mengapa? Karena ada banyak sekali lembaga atau kelompok masyarakat yang tergerak hatinya untuk membantu meringankan beban suadara-saudara mereka yang terpaksa mengungsi karena letusan Merapi.

Mulai dari orang perorangan yang menjadi relawan untuk memantau merapi, mencari korban yang meninggal, menjadi petugas di posko pengungsi – sampai dengan berbagai perusahaan, toko yang kesehariannya bekerja mencari profit membuat berbagai kegiatan  untuk menyalurkan bantuan.

Ketika bicara membantu meringankan beban pengungsi maka kegiatan yang segera tersergap dalam ide adalah menghibur pengungsi. Tujuannya supaya pengungsi tidak sedih, supaya pengungsi melupakan kesedihannya.

hasilnya luar biasa, hampir setiap hari di posko-posko pengungsi ada kegiatan ‘menghibur pengungsi’ yang digelar oleh berbagai kelompok masyarakat atau relawan. Bahkan untuk di posko-posko pengungsi besar, seperti di posko stadiun sepak bola Maguwoharjo, atau UNY, UPN, JEC (dulu) kegiatan hiburan untuk pengungsi bisa berlangsung dari pagi hari sampai jauh malam, terutama di malam minggu atau hari minggu.

Foto berikut ini merekam beberapa kegiatan ‘menghibur pengungsi’ yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat.

 

———> Please click on images for more stories


Bersekolah di Lokasi Pengungsian

15 November 2010 adalah hari yang istimewa buat Nadia Endarwati (7 tahun), karena hari ini dia mulai berangkat sekolah lagi setelah selama lebih dari 2 minggu Nadia dan 54 teman-temannya dari SD Petung, Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan Sleman harus tidak masuk sekolah disebabkan oleh letusan Gunung Merapi.

Nadia tinggal di Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan Sleman – salah satu dusun terdekat dengan puncak Merapi, jarak Kaliadem dengan puncak Merapi hanya sekitar 4 km. Letusan Merapi 26 Oktober memaksa 467 warga Kali Adem mengungsi ke Barak Pengungsian Kepuharjo, lalu pindah ke Barak pengungsian Wukirharjo dan letusan 04 Nov kembali memaksa wagra Kaliadem harus mengungsi keluar dari daerah bahaya 20 kilometer dari Merapi. Mereka mengungsi ke Stadiun Sepakbola Maguwoharjo, lalu satu hari kemudian pindah mengungsi ke Balai Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik Sleman yang jaraknya sekitar 23 KM dari Merapi.

SD Petung saat ini rata dengan tanah terterjang lahar panas Merapi. Demikian juga dengan perlengkapan sekolah Nadia dan teman-temannya hilang tersapu lahar panas Merapi. Nadia dan teman-temannya dari Kaliadem hari ini mulai bersekolah di sekolah terdekat dari tempatnya mengungsi yakni di SD Karangmloko 1. Memasuki gerbang sekolah SD Karangmloko, Nadia sempat ragu dan bertanya kepada kakak pendamping ”nanti saya punya teman tidak di sekolah ini?”. Kakak pendamping dan Ibu Bapak Guru di SD Karangmloko menyambut anak-anak dari Kaliadem dengan ramah.

Bapak kepala sekolah dan guru-guru di SD Karangmloko memsiapkan tambahan kursi dan meja untuk menampung siswa titipan dari SD Petung. Guru pun tidak lupa memperkenalkan anak-anak dari Kaliadem sebagai teman baru dan meminta siswa-siswa SD Karangmloko untuk berbagi buku pelajaran dan membantu teman-teman barunya dari Kaliadem.

Tetapi Nadia tetap merindukan sekolah asalnya SD Petung. ”Saya tetap lebih suka SD saya, SD Petung,” Kata Nadia. ”Saya juga kangen dengan teman-teman sekelasku di SD Petung.” Siswa dari SD Petung memang saat ini terpencar di beberapi tempat pengungsian di Sleman dan Yogyakarta.

Masuk ke sekolah yang baru, kelas yang asing, bertemu teman-teman baru dalam situasi yang  berbeda – tidak punya seragam, buku pelajaran, diajar oleh guru-guru yang baru yang belum pernah mereka kenal sebelumnya adalah suatu ’perjuangan’ untuk anak-anak pengungsi merapi.

Kembalinya rutinitas keseharian anak, salah satunya adalah kegiatan sekolah memang satu strategi dukungan psikososial penting untuk anak pulih dari pengalaman traumatis bencana. Akan tetapi mempersiapkan guru untuk dapat memahami ’suasana asing’ yang dialami anak-anak pengungsi dan kesiapan teman-teman di sekolah tempat menumpang adalah juga bagian penting untuk membantu anak-anak yang mengungsi untuk bisa cepat kembali ceria.

Ketika bertemu dengan kepala dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Ibu Suyamsih (27 Nov), berkaitan dengan rencana kepulangan pengungsi dari Kecamatan Cangkringan ke barak pengungsian terdekat di desa mereka, Dinas Pendidikan DIY / Sleman menyiapkan rencana pendidikan untuk siswa yang mengungsi sebagai berikut: siswa SD Srunen (155 siswa) dan SD Glagah (169 siswa) akan dititipkan ke SD Muhammadiyah Cepit, masuk siang. Siswa SD PAngukrejo (97 siswa) akan dititipkan ke SD Cancangan, dan masuk pagi. Siswa SD Petung (94 siswa) & SD Batur (128 siswa) dititipkan ke SD Umbulharjo dan masuk siang. Siswa SD Cangkringan 1 (98 siswa) yang lokasi sekolahnya  beresiko karena di tepi sungai Gendol akan dititipkan ke SD Kuwang . Siswa SD Cangkringan 2 (87 siswa) & SD Bronggang Baru (1 57 siswa) akan dititipkan ke SD Kuwang dan masuk siang.  Dan siswa SD Gungan (86 siswa)  akan dititipkan ke SD Muhammadiyah Kregan dan masuk siang.

Belajar dari pengalaman anak-anak Kaliadem di SD Karangmloko, yang juga harus disiapkan oleh Dinas Pendidikan adalah kesiapan guru untuk mengajar anak dalam situasi mengungsi.

—> silakan klik  pada gambar untuk cerita lebih lanjut.


Kinahrejo Kini

 

Rabu, Hari Raya Idhul Adha saya diajak Pak Suji, warga Kinahrejo yang saat ini mengungsi, untuk mengunjungi dusunnya, Kinahrejo.

 

Memasuki dusun Pangukrejo, saya benar-benar tidak mengenali dusun ini sekarang. Rumah, pekarangan, pohon-pohon yang dulunya hijau dan rindang mengelimuti dusun, kini semua mati, porak poranda. Hanya tersisa satu warna coklat kelabu. Ada 195 rumah di Pangukrejo dan sekarang semuanya rusak bahkan sebagian besar dari rumah tersebut musnah terterjang “wedhus gembel”

 

Mendaki sampai ujung dusun Pangukrejo, langsung dengan mudah terlihat dusun Kinahrejo. Tersisa hanya seperti tegalan sawah. Tidak ada pohon tersisa. Tidak ada kehidupan tetinggal. Tidak ada satupun dari 150 rumah warga Kinahrejo yang tersisa. Semua habis diterjang si “wedhus gembel”

 

Dulu, sebelum letusan, tidak mungkin kita bisa melihat seluruh dusun Kinahrejo langsung dari Pangukrejo, karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan rumah-rumah warga.

 

Pak Suji dan saya hanya bisa termangu melihat Kinahrejo dari ujung dusun. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Pak Suji saat itu.

 

 

Bapak dan simbok Pak Suji meninggal karena letusan Merapi 04 November 2010. Pak Suji adalah salah satu relawan pemantau Merapi di dusunnya. Seminggu sebelum letusan 26  Oktober, warga Kinahrejo sudah tahu bahwa dalam waktu dekat akan terjadi letusan Merapi. Mereka sudah siap-siap mengungsi.

 

Tetapi untuk beberapa orang ’sepuh’ Kinahrejo percaya bahwa ”Mbah Buyut (maksudnya Gunung Merapi) tidak akan membuang di ’pelataran rumahnya’ sendiri” – maksudnya Letusan gunung Merapi dan ’wedhus gembel’ dipercaya tidak akan menerjang Kinahrejo yang merupakan ’pelataran rumah’ Merapi.

 

Pak Suji tidak hanya kehilangan orang tuanya, tetapi juga keponakannya, paklik dan bulik (paman & bibi) dan sanak saudara  lain yang terlambat untuk mengungsi atau tidak mau mengungsi.

 

Pak Suji pasrah kepada kehendak Ilahi, yang menjadi pikirannya sekarang bagaimana mulai hidup baru. Dia mendengar bahwa warga Kinahrejo akan direlokasikan. Dia terima jika itu keputusannya, tetapi bagaimana dengan mencari makan untuk keluarga.

 

Di pengungsian memang tercukupi untuk kebutuhan makan. Tetapi ’normalnya’ sebuah keluaarga dengan tinggal di pengungsian kurang, kata Pak Suji. Saya butuh pekerjaan, ’nyekel duit’ (memiliki uang sendiri) untuk kebutuhan anak jajan, untuk beli bensin, untuk beli kebutuhan sendiri yang tidak disediakan di pengungsian.

“Nornale keluarga yo nguripi keluargane mas. Mboten namung nyadong bantuan,” kata pak Suji (artinya: Normalnya sebuah keluarga adalah menghidupi keluarganya. Tidak hanya menengadahkan tangan meminta bantuan). Aku mengangguk setuju dengan Pak Suji.

 

–> please klick on images for more stories.

 

 

 


Kelabu di Kepuharjo

“Ditinggalkan penghuni.  902 KK penduduk Kepuharjo harus mengungsi karena rumah mereka terterjang awan panas Merapi”

Memasuki desa Kepuharjo, suasana mencekam menyergapku.

Kesunyian dan keheningan Kepuharjo saat ini adalah senyapnya  laksana dewa Yama yang bertandang ke Kepuharjo.

Tujuh dusun di Kepuharjo luluh lantah ditejang lahar panas Merapi.

Pagi ini tertinggal hanya satu warna di Kepuharjo,

Kelabu yang kusam.

“Seorang warga Kepuharjo menatap kampungnya.

Dia mengatakan tidak tahu apakah desanya bisa dihuni kembali atau tidak melihat kerusakan yang terjadi saat ini.”

 

 

“Lorong balaidesa Kepuharjo yang porakporanda oleh abu vulkanik”

 

“Balai desa Kepuharjo yang terbakar karena terjangan awan panas Merapi 04 Nov 2010 lalu.”

“Sekitar 4.000 ternak sapi warga Kepuharjo mati karena awan panas Merapi.

Sapi-sapi itu tidak sempat diungsikan saat letusan Merapi 04 Nov 2010.”


Merapi Eruption: Life as IDPs at Maguwoharjo football stadium

Merapi eruption on Nov 04 forced IDPs to flee out from 20 km distance from mount Merapi.

More than 20,000 IPDs have been forced to move to football stadium Maguwoharjo (Nov 06), the biggest IDP camp in Yogyakarta.

—-> please click on images for more stories

 

 

special room for mothers and toddlers provided

 

athletes’ dressing room transformed as shelter for IDPs

 

IPDs have to struggle to get help

children selected secondhand clothes

 

A mother and child waited for their turn to receive logistical assistance