Tag Archives: Tugu Yogyakarta

Hujan. Tugu Yogya. Kali Code

Hampir setiap hari, Yogyakarta hujan deras.

Hujan yang sangat deras  ini membawa was-was bagi warga Yogya yang tinggal di sekitar kali Code.

Was-was dan berjaga terhadap banjir lahar dingin di Kali Code.

Beberapa foto berikut merekam Tugu Yogya dan Kali Code di musim hujan ini.

Iklan

Photo Diary 25-02-2010: Selamat pagi Yogyakarta (bagian 0)

 

 

05.45 WIB. Berjalan kaki dari stasiun Tugu, menyusuri jalan Mangkubumi untuk melemaskan kaki yang lelah semalaman duduk di kereta, aku sampai di Tugu Yogya.

Tugu Yogya yang ada di tengah perempatan jalan besar Jalan AM. Sangaji ke utara – ke timur Jl. Jenderal Sudirman – ke selatan Jl. Pangeran Mangkubumi-Malioboro – ke barat Jl. Pangeran Dipanegara sudah menjadi identitas kotaku tercinta Yogyakarta.

Duduk di sisi Jalan Diponegoro, aku mengagumi Tugu Yogya pagi ini.

Konon sejarahnya, tugu Yogya adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Hamengku Buwana I, dibangun untuk memperingati rasa kebersamaan raja (pada waktu itu Pangeran Mangkubumui) dengan rakyat yang bersatu padu melawan Belanda sehingga Pangeran Mangkubumi mendapatkan tanah Mataram. Tugu tersebut dibangun setahun setelah Perjanjian Gianti. Ketinggian Tugu pada waktu dibangun pertama kali adalah 25 meter.

Dalam bahasa Belanda Tugu Yogya ini lebih terkenal dengan sebutan white paal (tugu putih). Sedangkan masyarakat Yogyakarta generasi tua sering menyebutnya Tugu Pal Putih.

Di samping itu, masyarakat Yogyakarta juga sering menyebutnya Tugu Golong Gilig. Hal itu tidak terlepas dari ciri-ciri fisik bangunan itu. Warna putih yang melingkupi seluruh tubuh tugu itu menjadikannya lebih terkenal dengan sebutan Tugu Pal Putih.


Photo Diary 25-02-2010: Selamat pagi Yogyakarta (bagian 1)

 

 

Puncak tugu Pal Putih pada awalnya sebagai titik pandangan Sultan sewaktu menghadiri upacara Grebeg di Bangsal Manguntur, di Sitihinggil Lor.

Tugu Yogyakarta ini pada tanggal 10 Juni 1867 runtuh kira-kira sepertiganya akibat gempa yang melanda Yogyakarta waktu itu. Oleh penguasa Belanda tugu tersebut dirombak pada tahun 1889 sehingga mengalami perubahan bentuk seperti sekarang ini dan tingginya berubah menjadi hanya 15 meter.

Perombakan ini dilakukan Belanda dengan maksud agar tugu tersebut tidak lagi menjadi simbol atau monumen golong gililg antara rakyat dengan raja sehingga makna semula seperti ketika dibangun menjadi hilang. Melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, aku yakin bahwa upaya & taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja itu tidak berhasil.

Tugu Yogya, tugu penanda bahwa semangat manunggal (bersatu) rakyat dan pemimpin yang berjuang untuk rakyat tidak akan bisa dipaksa hilang atau dihapus dari ingatan oleh penguasa siapa pun, gumamku melanjutkan langkah ke arah Jalan Sangaji…