Tag Archives: Stasiun Beos

Mumet dengan Commuter KRL

Dalam minggu ini KRL yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta terjadi perubahan jadwal: beberapa rute keberangkatan dibatalkan karena keretanya diperbaiki. Rupanya perbaikan KRL ini juga untuk kereta yang melayani rute Jakarta- Bogor/ Depok, Jakarta -Tangerang.

Alhasil, terjadi penumpukan penumpang di jadwal yang tersisa. Padahal sebelumnya, dengan jumlah KRL yang ada – penumpang juga sudah menumpuk padat untuk setiap jenis KRL.

Logikanya sih dengan berkurangnya jadwal KRL yang beroperasi, karena diperbaiki, maka jadwal perjalanan dan waktu tempuh KRL yang masih berjalan bisa lebih cepat, minimal lebih tepat waktu.  Kenyataaannya di  lapangan, jadwal keberangkatan KRL tetap terlambat, waktu tempuh tetap molor – bahkan molor lebih lama.

Beginilah nasib warga kota, yang tetap harus bayar pajak – karena tidak bayar pajak dianggap kriminal -, tetapi haknya untuk pelayanan dasar, termasuk pelayanan transportasi yang nyaman dan cepat, dicuekin oleh negara.

Foto-foto berikut merekan pengalaman pagi hari berangkat kerja dengan KRL dan pulang kerja, juga dengan KRL.

——-> Silakan klik pada gambar untuk cerita lebih lanjut.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Photo Diary 23-01-2010: Ojek Sepeda (1)


Keluar dari stasiun kereta api jakarta kota, ada satu alat trasportasi yang tidak aku temukan di stasiun kereta api lain, yakni ojek sepeda onthel.

Berderet 30-an ojek sepeda onthel mangkal di depan stasiun kota, atau yang orang lebih kenal sebagai stasiun Beos.


Photo Diary 23-01-2010: Ojek Sepeda (2)

Ojek sepeda onthel masih bisa bertahan bersaing dengan ojek motor, busway dan angkutan lain karena ongkosnya lebih murah jika dibandingkan dengan ojek motor. “Ongkos naik sepeda onthel tidak terpengaruh naikknya harga bensin sebab sepeda ontel hanya menggunakan bahan bakar keringat dan nasi sepiring,” kata Pak Aman (40 th) salah satu pengojek sepeda asal Brebes yang sudah 12 tahun setia sebagai pengojek sepeda di Kota. Untuk menjadikannya sebagai sepeda ojek,  maka sepeda onthel biasa dimodifikasi dengan menambahkan jok busa pada boncengan untuk penumpang, membawa payung atau plastik sebagai jas hujan dan air minum dalam botol ”aqua” ukuran sedang diikat di stang untuk ”bahan bakar” pengojek.

Sebab kedua, dengan ojek sepeda waktu untuk mencapai tujuan lebih cepat dibandingkan dengan kendaraan lain, seperti dengan mikrolet, metromini, bajaj, bahkan busway sekalipun. Ojek sepeda tidak mengenal macet, mereka dengan lincahnya menerobos, menyelip di antara kendaraan-kendaraan yang padat rapat dan macet di Kota. Bahkan mereka bisa dengan enaknya berjalan melawan arus tanpa harus dimarahi pak polisi.

Ketiga, sekarang banyak wisatawan berkunjung ke kota tua. Naik sepeda onthel menjadi pilihan bagi para wisatawan tersebut. Membuat lebih lengkap pengalaman wisata tempo doeloe kota tua kalau naik sepeda onthel.


Photo Diary 23-01-2010: Ojek Sepeda (3)

Stasiun Beos itu sendiri – yang dibangun sekitar tahun 1870 dan direnovasi tahun 1926 –  sudah ditetapkan oleh Pemerintah DKI sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.

Konon, katanya nama Beos adalah kependekan dari  Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi  kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie ( Bekasi), Buitenzorg ( Bogor), Parijs van Java ( Bandung), Karavam ( Kerawang), dan lain-lain.

Ojek sepeda onthel seharusnya juga mendapat perhatian pemerintah sebagai cagar budaya atau bagian dari ekosistem Kota Tua. ”Ojek sepeda itu tidak lepas dari sejarah Kota Jakarta. Nggak bisa dibanyangin deh Kota tanpa ojek sepeda,” kata pak Aman. ***