Tag Archives: kereta api

Mumet dengan Commuter KRL

Dalam minggu ini KRL yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta terjadi perubahan jadwal: beberapa rute keberangkatan dibatalkan karena keretanya diperbaiki. Rupanya perbaikan KRL ini juga untuk kereta yang melayani rute Jakarta- Bogor/ Depok, Jakarta -Tangerang.

Alhasil, terjadi penumpukan penumpang di jadwal yang tersisa. Padahal sebelumnya, dengan jumlah KRL yang ada – penumpang juga sudah menumpuk padat untuk setiap jenis KRL.

Logikanya sih dengan berkurangnya jadwal KRL yang beroperasi, karena diperbaiki, maka jadwal perjalanan dan waktu tempuh KRL yang masih berjalan bisa lebih cepat, minimal lebih tepat waktu.  Kenyataaannya di  lapangan, jadwal keberangkatan KRL tetap terlambat, waktu tempuh tetap molor – bahkan molor lebih lama.

Beginilah nasib warga kota, yang tetap harus bayar pajak – karena tidak bayar pajak dianggap kriminal -, tetapi haknya untuk pelayanan dasar, termasuk pelayanan transportasi yang nyaman dan cepat, dicuekin oleh negara.

Foto-foto berikut merekan pengalaman pagi hari berangkat kerja dengan KRL dan pulang kerja, juga dengan KRL.

——-> Silakan klik pada gambar untuk cerita lebih lanjut.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Photo Daily 26-01-2010: Adik Balita Melihat Kereta Api Lewat

Sore hari, setelah dimandikan, pakai baju – tidak lupa sebelumnya diberi bedak bayi dan minyak telon – acara selanjutnya si bayi biasanya adalah jalan-jalan keluar rumah (sambil makan sore atau mimik susu). Jalan-jalannya biasa tidak jauh-jauh, hanya dekat rumah dan tempat yang menarik untuk si bayi seperti melihat kereta api yang lewat di stasiun Pondok Jati ini.

Dari dalam KRL ekonomi jurusan Bekasi, sore ini aku melihat ada enam ibu atau pengasuh yang “momong” anak balitanya dengan mengajak si bayi melihat kereta api di stasiun. Tujuannya adalah supaya si anak senang dan makan sorenya dihabiskan dengan menyenangkan, karena si bayi asyik melihat kereta api yang lewat.

Kereta api berhenti cukup lama di stasiun Pondok Jati itu – sekitar 20 menit-, karena harus menunggu kereta lain yang datang dari arah stasiun Jatinegara melintas. Aku turun dari kereta dan iseng bertanya kepada petugas stasiun yang berdiri mengawasi, ”Pak, kok ada banyak ibu-ibu yang membawa bayi di stasiun. Memangnya mereka mau pergi ke mana ya Pak?”. Bapak petugas menjawab dengan jelas dan singkat “Oh ibu-ibu itu memang setiap sore ngajak jalan-jalan balita lihat kereta api, sambil ndulang (ndulang = bahasa jawa yang artinya memberi makan bayi) itu lho mas.”

Untuk keluarga-keluarga yang berduit mungkin mengajak anak balitanya jalan-jalan sorenya ke mall atau ke taman kompleks perumahan mereka. Tetapi untuk keluarga miskin yang tinggal di kampung-kampung Jakarta sepertinya taman bermain gratis, atau bahasa lainnya ruang publik untuk anak bermain, sulit ditemukan di kampung mereka.

Gang sempit, sedikit ruang di pinggir jalan raya dengan kendaraan yang lewat berasap hitam pekat, sedikit tanah kosong yang tersisa, halaman sekolah (kalau tidak digembok oleh sekolah lho), halaman masjid, pasar, kuburan, tepi rel kereta dan tentunya area stasiun menjadi ruang publik bagi keluarga miskin dan anak-anak bermain.

Aku tidak bisa mendekati ibu-ibu dan anak balitanya karena mereka di sisi seberang rel. Kembali masuk ke kereta , melongok keluar dari pintu kereta sisi lain, aku mencoba mengobrol dengan ibu terdekat dan minta ijin memoto. ***


Photo Diary 24-01-2010: Tidak Ada Pilihan ?

Waktu anak-anak, ibuku selalu menasihati jangan main di tempat yang banyak kacanya (maksudnya banyak pecahan kacanya – pecahan botol, gelas, piring, atau kaca jendela). Dan aku selalu patuh. Aku yakin, orang tua lain juga menasihati anaknya sama seperti ibuku.

Tetapi, dua bapak di gerbong KA Ekonomi ini tidak bisa memilih untuk tidak duduk dekat (jendela dengan) kaca yang pecah. Adanya hanya itu. Walau sebetulnya berbahaya, tetapi tidak ada pilihan dan  mau protes ke siapa.

Alkisah, dua  hari lalu, Jum’at 22 Januari, PT Kereta Api Indonesia melalui Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mengusulkan kenaikan tiket KA ekonomi sebesar 12,5 persen per semester selama dua tahun dan jika disetujui maka kenaikan tiket itu akan dimulai di semester 2 tahun ini.

Kata Komisaris Utama PT KA, Budi M Suyitno,  pengajuan kenaikan tiket KA kelas ekonomi itu diajukan karena tarif yang berlaku saat ini sudah berlaku delapan tahun. Artinya selama delapan tahun belum ada penyesuaia tiket KA ekonomi. Masih kata Budi Budi, kenaikan tiket KA kelas ekonomi sangat perlu bagi PTKA untuk operasional dan peningkatan pelayanan kereta api.

Tiba-tiba suara dalam diriku nyeletuk: katanya akses terhadap alat transportasi yang aman adalah bagian dari hak asasi manusia dan si pemerintah wajib memberikannya, lalu sebetulnya tugas dan bebannya siapa sih memberikan pelayanan KA ekonomi yang aman?  ***


Kisah: Bersama Senja Utama Jogja Jum’at dan Minggu_part 0

Trademark: orang mengenal kereta api Bisnis dengan tempat duduknya yang berlapiskan kulit sintetis warna hijau dan besi stainless di atasnya.

Jum’at malam dan Minggu malam lalu, kuhabiskan malamku di Kereta Api Bisnis Senja Utama Jogjakarta dalam perjalanan Jakarta-Jogja dan Jogja-Jakarta. Dua malam bercengkerama dengan Senja Utama membuatku lebih mengenal dirimu Kereta Api Bisnis Senja Utama Jogja


Kisah: Bersama Senja Utama Jogja Jum’at dan Minggu_part 1

Nonton wayang orang Bharata – Sabtu 16 Jan 2010. Itu yang aku tuliskan di agendaku minggu lalu untuk acara di malam Minggu, karena agenda awal untuk  pergi ke Papua tanggal 15 Jan batal. Jum’at paginya dapat telepon dari Jogja bahwa Sita-ku sakit, demam tinggi, maka aku putuskan untuk pulang ke Jogja Jum’at malam selepas kantor, naik kereta.


Kisah: Bersama Senja Utama Jogja Jum’at dan Minggu_part 2

Untuk mendapatkan karcis kereta api untuk pulang ke Jogja Jum,at sore rupanya tidak mudah. aku mencoba beli karcis di reservasi tiket stasiun Gambir, Jum’at siang,  tetapi semua karcis kereta eksekutif dan bisnis tujuan Jogja dan Solo atau yang kereta tujuan akhir lainnya yang berhenti di stasiun Jogjakarta sudah habis terjual. Sudah sejak satu minggu lalu habis terjualnya. Begitu juga dengan semua tiket balik Jogjakarta atau Jawa Tengah – Jakarta untuk hari Minggu 17 Jan, sudah habis terjual.

Akhirnya aku ikut antri karcis kereta bisnis Senja Utama Jogja di Stasiun Jatinegara setelah pulang kantor, tetapi yang ada tinggal karcis berdiri tanpa tempat duduk. Harganya sama dengan harga karcis dengan tempat duduk, Rp 130.000 untuk Senja Utama Jogja.

Rupanya hari Jumat sore biasanya kereta jurusan Jakarta menuju Jawa Tengah dipenuhi oleh penumpang yang rata-rata adalah orang Jawa Tengah yang bekerja di Jakarta. Dan sebaliknya, pada Minggu sore, kereta jurusan Jawa Tengah menuju Jakarta yang kemudian dipenuhi penumpang. Hal ini terjadi setiap minggu karena cukup banyak orang, bahkan banyak sekali,  pulang kampung tiap minggu.


Kisah: Bersama Senja Utama Jogja Jum’at dan Minggu_part 3

Banyak orang tidak membeli karcis di loket, tetapi memilih “bayar di atas” istilahnya. Artinya tidak membeli karcis dan membayar kepada petugas di atas kereta. Prosesnya cukup sederhana, untuk kereta bisnis Jakarta-Jogja “bayar di atas”-nya cukup dengar menyodorkan Rp20.000 atau Rp25.000 kepada petugas hingga Purwokerto kemudian dari Purwokerto ke Jogja cukup membayar lagi Rp20.000 atau Rp25.000. Selesai. Bisa membayarnya langsung perorangan ke petugas, tetapi banyak juga yang membayarnya berkelompok, ada koordinatornya segala.

Lalu bagaimana duduknya di kereta? Untuk mereka yang memegang karcis dengan tempat duduk, ya langsung menuju nomor tempat duduk yang tercantum di karcis. Untuk mereka yang dengan karcis berdiri (tanpa tempat duduk) atau bayar di atas, ya harus bergerilya dari gerbong ke gerbong untuk mencari tempat kosong yang bisa diduduki, bisa di gang antara kursi penumpang, di bordes, di sambungan antar gerbong, di dekat toilet (atau tidak jarang beberapa orang memilih di dalam toilet).