Tag Archives: Kehidupan

Mumet dengan Commuter KRL

Dalam minggu ini KRL yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta terjadi perubahan jadwal: beberapa rute keberangkatan dibatalkan karena keretanya diperbaiki. Rupanya perbaikan KRL ini juga untuk kereta yang melayani rute Jakarta- Bogor/ Depok, Jakarta -Tangerang.

Alhasil, terjadi penumpukan penumpang di jadwal yang tersisa. Padahal sebelumnya, dengan jumlah KRL yang ada – penumpang juga sudah menumpuk padat untuk setiap jenis KRL.

Logikanya sih dengan berkurangnya jadwal KRL yang beroperasi, karena diperbaiki, maka jadwal perjalanan dan waktu tempuh KRL yang masih berjalan bisa lebih cepat, minimal lebih tepat waktu.  Kenyataaannya di  lapangan, jadwal keberangkatan KRL tetap terlambat, waktu tempuh tetap molor – bahkan molor lebih lama.

Beginilah nasib warga kota, yang tetap harus bayar pajak – karena tidak bayar pajak dianggap kriminal -, tetapi haknya untuk pelayanan dasar, termasuk pelayanan transportasi yang nyaman dan cepat, dicuekin oleh negara.

Foto-foto berikut merekan pengalaman pagi hari berangkat kerja dengan KRL dan pulang kerja, juga dengan KRL.

——-> Silakan klik pada gambar untuk cerita lebih lanjut.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Hujan. Tugu Yogya. Kali Code

Hampir setiap hari, Yogyakarta hujan deras.

Hujan yang sangat deras  ini membawa was-was bagi warga Yogya yang tinggal di sekitar kali Code.

Was-was dan berjaga terhadap banjir lahar dingin di Kali Code.

Beberapa foto berikut merekam Tugu Yogya dan Kali Code di musim hujan ini.


Menghibur Pengungsi

Tanggap Bencana Merapi 2010 ini membuat hatiku cukup gembira. Mengapa? Karena ada banyak sekali lembaga atau kelompok masyarakat yang tergerak hatinya untuk membantu meringankan beban suadara-saudara mereka yang terpaksa mengungsi karena letusan Merapi.

Mulai dari orang perorangan yang menjadi relawan untuk memantau merapi, mencari korban yang meninggal, menjadi petugas di posko pengungsi – sampai dengan berbagai perusahaan, toko yang kesehariannya bekerja mencari profit membuat berbagai kegiatan  untuk menyalurkan bantuan.

Ketika bicara membantu meringankan beban pengungsi maka kegiatan yang segera tersergap dalam ide adalah menghibur pengungsi. Tujuannya supaya pengungsi tidak sedih, supaya pengungsi melupakan kesedihannya.

hasilnya luar biasa, hampir setiap hari di posko-posko pengungsi ada kegiatan ‘menghibur pengungsi’ yang digelar oleh berbagai kelompok masyarakat atau relawan. Bahkan untuk di posko-posko pengungsi besar, seperti di posko stadiun sepak bola Maguwoharjo, atau UNY, UPN, JEC (dulu) kegiatan hiburan untuk pengungsi bisa berlangsung dari pagi hari sampai jauh malam, terutama di malam minggu atau hari minggu.

Foto berikut ini merekam beberapa kegiatan ‘menghibur pengungsi’ yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat.

 

———> Please click on images for more stories


katakata

katakata

berkatakata

berpatut kata

mematut diri tampak cerdas

dengan berkatakata

katakata

berkatakata

mendaftar katakata permintaan untuk kenyamanan diri

lalu menyodorkan paksa katakata permintaan itu dalam bungkus doa

kepada Sang Pemilik Hidup

katakata

berkatakata

berkidung pujian, mendaras syukur kala nikmat hidup menghampiri

katakata

berkatakata

berprotes, menggugat Allah yang Maha Rahim kala kemalangan menyambangi

katakata

berkatakata

membentuk sesuaikan dengan diri sendiri bentuk  Sang Pencipta dengan katakata

katakata

berkatakata

serasa kurang suci, kurang saleh jika tidak berkatakata

katakata

berkatakata

berkatakata berarti aku ada

tidak berkatakata aku menjadi tidak ada

dan ini yang aku takutkan, menjadi tidak berkatakata, menjadi tidak eksis.

 

Pertanyaan terselip, katakata kah yang sejatinya menentukan hidup?

(21 Okt 2010)


Pedagang Lima Kaki Kota Tua

Jalan-jalan ke kota tua Jakarta

bertebar puluhan pedagang kaki lima

jajakan oleholeh, jajakan gorengan bakwan tempe tahu

manjakan pelancong nikmati batavia tempo dulu

Disebut pedagang kaki lima konon katanya

jaman pemerintah belanda mewajibkan setiap jalan raya

dibangun juga sarana untuk pejalan kaki

luasnya lima kaki untuk orang berjalan kaki

Republik Indonesia merdeka, penjual di ruas jalan itu dikasih nama pedagang kaki lima

Sumringah senyum penjaja gorengan kaki lima

lihat banyak pengunjung yang meramai

harap mereka singgah membeli gorengannya

harap mendapat cukup uang tunai

untuk makan hari ini dan ditabung untuk keluarga di kampung cirebon sana

 

Pedagang kaki lima rutin “ditertibkan” pemerintah kota

dianggap mengotori kota, mengganggu ketertiban umum

Tetapi anak bini berdoa dengan waswas

Tuhan lindungi pedagang kaki lima suamiku

Peroleh rizki yang halal dan selamat pulang ke rumah

 


Antara 05.30WIB – 06.30WIB: Jakarta

05.30 WIB

Gedung tinggi berselimut kabut

Kabut menyapu biru yang lembut

Selimut kabut mulai menyingkap diri

Nyata tercetak gedung terpolusi

Jakarta pagi ini

Nyaman kulihat dari kamar hotel berbintang

Dengan AC mendesis

Di luar sana, asap segala kendaraan meracun orang-orang.

06.30 WIB


Abdi Dalem Keraton Ngayogjakarta

Memasuki Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kita akan langsung bertemu dengan para abdi dalem kraton yang ramah dengan baju surjan warna biru tua, namanya pakaian Pranakan.

 

Saat ini ada 1200 abdi dalem Keraton Ngayogyakarta. Menjadi abdi dalem Kraton adalah pengabdian sukarela. Manunggaling kawula gusti dan sangkan paraning dumadi adalah dasar keikhlasan mengabdi di Kraton Yogyakarta, bukan etika Weberian atau perhitungan untung rugi yang dicetus Adam Smith.

 

Sikap dan laku ikhlas abdi dalem ini tersurat di pakaian Pranakan yang dikenakan oleh mereka.  Pakaian Pranakan yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana V(1820-1855) 188 tahun yang lalu, adalah surjan dengan warna biru tua yang melekat, dengan corak garis vertikal berjumlah tiga dan empat garis memiliki makna dalam.  Garis  berjumlah tiga dan empat memiliki arti Telupat yang bermakna Kewuluminangka Perpat yang artinya di rengkuh dan disaudarakan dalam satu kesatuan di kerajaan.  Sifat persaudaraan yang diharapkan adalah persaudaraan sesama abdi dalem dan persaudaraan dengan Sri Sultan raja mereka.  Abdi ingin merasa dekat dengan raja mereka, ini disimbolkan dengan pakaian pranakan yang berwarna biru tua yang artinya memiliki tekat yang kuat dan kesungguhan hati dalam pengabdian terhadap raja mereka.

 

Di dalam lingkungan Kraton abdi dalem dibagi menjadi dua; yaitu abdi dalem Punokawan dan Kaprajan.  Abdi dalem Punakawan merupakan abdi yang memiliki tugas pokok harian di lingkungan Kraton, sedangkan abdi dalem kaprajan adalah abdi dalem yang memiliki panggilan jiwa untuk mengabdi, mereka berasal dari pegawai instansi pemerintah, baik yang sudah pensiun atau masih bekerja sebagai karyawan.

Di luar abdi dalem Kraton Yogyakarta, masih ada nggak ya orang yang bekerja dengan etika keikhlasan tanpa pamrih?

Wah, sepertinya sulit menemukannya.