Tag Archives: Jakarta

Mumet dengan Commuter KRL

Dalam minggu ini KRL yang menghubungkan Bekasi dan Jakarta terjadi perubahan jadwal: beberapa rute keberangkatan dibatalkan karena keretanya diperbaiki. Rupanya perbaikan KRL ini juga untuk kereta yang melayani rute Jakarta- Bogor/ Depok, Jakarta -Tangerang.

Alhasil, terjadi penumpukan penumpang di jadwal yang tersisa. Padahal sebelumnya, dengan jumlah KRL yang ada – penumpang juga sudah menumpuk padat untuk setiap jenis KRL.

Logikanya sih dengan berkurangnya jadwal KRL yang beroperasi, karena diperbaiki, maka jadwal perjalanan dan waktu tempuh KRL yang masih berjalan bisa lebih cepat, minimal lebih tepat waktu.  Kenyataaannya di  lapangan, jadwal keberangkatan KRL tetap terlambat, waktu tempuh tetap molor – bahkan molor lebih lama.

Beginilah nasib warga kota, yang tetap harus bayar pajak – karena tidak bayar pajak dianggap kriminal -, tetapi haknya untuk pelayanan dasar, termasuk pelayanan transportasi yang nyaman dan cepat, dicuekin oleh negara.

Foto-foto berikut merekan pengalaman pagi hari berangkat kerja dengan KRL dan pulang kerja, juga dengan KRL.

——-> Silakan klik pada gambar untuk cerita lebih lanjut.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Pedagang Lima Kaki Kota Tua

Jalan-jalan ke kota tua Jakarta

bertebar puluhan pedagang kaki lima

jajakan oleholeh, jajakan gorengan bakwan tempe tahu

manjakan pelancong nikmati batavia tempo dulu

Disebut pedagang kaki lima konon katanya

jaman pemerintah belanda mewajibkan setiap jalan raya

dibangun juga sarana untuk pejalan kaki

luasnya lima kaki untuk orang berjalan kaki

Republik Indonesia merdeka, penjual di ruas jalan itu dikasih nama pedagang kaki lima

Sumringah senyum penjaja gorengan kaki lima

lihat banyak pengunjung yang meramai

harap mereka singgah membeli gorengannya

harap mendapat cukup uang tunai

untuk makan hari ini dan ditabung untuk keluarga di kampung cirebon sana

 

Pedagang kaki lima rutin “ditertibkan” pemerintah kota

dianggap mengotori kota, mengganggu ketertiban umum

Tetapi anak bini berdoa dengan waswas

Tuhan lindungi pedagang kaki lima suamiku

Peroleh rizki yang halal dan selamat pulang ke rumah

 


Antara 05.30WIB – 06.30WIB: Jakarta

05.30 WIB

Gedung tinggi berselimut kabut

Kabut menyapu biru yang lembut

Selimut kabut mulai menyingkap diri

Nyata tercetak gedung terpolusi

Jakarta pagi ini

Nyaman kulihat dari kamar hotel berbintang

Dengan AC mendesis

Di luar sana, asap segala kendaraan meracun orang-orang.

06.30 WIB


Photo Diary: Dust in Marunda

Although high voltage electrical wires crossing the Marunda, families at some neighborhood in Marunda did’t have electricity for lighting up a few months ago.


Photo Diary 22-03-2010: Senja di BKT

Matahari bersinar penuh sore itu, tidak ada awan mendung yang menghalangi unjuk digdaya sang Matahari seperti di hari sebelum-sebelumnya.

Menjelang magrib, aku sejenak rehat dan menepi dari pusaran arus motor – mobil yang melaju pulang ke rumah-rumah  pekerja-pekerja Jakarta.

Mencoba merasai matahari di batas horizon barat.

Berdiri di atas jembatan belum jadi yang rencananya dibangun melintang di atas BKT, jembatan yang menghubungkan kampung kecil di seberang selatannya.

Sepi orang, angin semilir, dua orang memancing di “sungai” BKT

Sementara hanya 50 meter dari tempat aku berdiri, riuh mesin kendaraan berpacu ke arah pondok kopi, bintara, kranji, dll. Berusaha saling salip, seakan berlomba dengan detik. Riuh, tidak sepi.

Kontras memang.


Photo Diary 03-02-2010: Persaingan antara Sepeda Motor dan Lampu Merah

Bagiku dan ribuan pekerja lainnya di Jakarta, pilihan untuk naik sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja adalah pilihan rasional efisiensi dan efektifitas.

Hampir dua tahun ikut bersepeda motor ria di Jakarta, aku jadi  mengetahui “adat istiadat” masyarakat bersepeda motor di Jakarta.

Satu hal penting yang kamu harus kuasai sebelum bersepeda motor di Jakarta adalah kamu harus mengenali dengan baik pola  lampu lalu lintas di setiap jalan yang kamu lalui, terutama untuk perempatan atau pertigaan yang memang ada lampu lalu lintasnya.

Sebagai contoh:  di sebuah perempatan, Kamu harus kenali dan hafalkan baik-baik  lampu hijau menyala di jalan sebelah kananmu atau sebelah kirimu, lalu sisi jalan mana yang berikutnya lampu hijau.  Mengapa ini penting? Karena para motor biker di Jakarta punya kebiasaan melaju motornya di saat rambu lalu lintas masih merah, kerena mereka sudah hapal bahwa “sebentar lagi” lampu hijau adalah untuk mereka.  Dan pak polisi biasanya tidak akan menilangmu.

Tetapi jika kamu mencoba taat menunggu sampai lampu hijau menyala baru kamu melaju motormu, maka para motor bikers di belakangmu akan serempak mengklaskon-mu keras-keras atau meneriakimu “Jalan hoi! jalan!”.

Coba deh!


Photo Diary 01-02-2010: Fried Chicken & Coca Cola

Globalisasi, siapa yang tidak kenal kata ini.

Ketika semua orang di pelosok dunia memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan McDonald atau Kentucy Fried Chicken, minum Coca-Cola sering disebut menjadi penanda globalisasi.

Mereka yang menentang globalisasi bilang bahwa globalisasi merontokkan dan meluluh-lantakkan ekonomi rakyat negara-negara miskin, merontokkan kehidupan negara-negara miskin dalam suatu bentuk pertandingan tak seimbang antara pemodal raksasa dengan buruh gurem. Rakyat kecil tak berdaya di negara-negara miskin, menjadi semakin terpuruk dan merana.

Eit! Nanti dulu! Masyarakat miskin dunia ketiga rupanya tidak lah mudah rontok.

Kentucky Fried Chicken dan Coca Cola jika tidak bisa dilawan langsung, ya disiasati saja!