Category Archives: Renungan

Antara 05.30WIB – 06.30WIB: Jakarta

05.30 WIB

Gedung tinggi berselimut kabut

Kabut menyapu biru yang lembut

Selimut kabut mulai menyingkap diri

Nyata tercetak gedung terpolusi

Jakarta pagi ini

Nyaman kulihat dari kamar hotel berbintang

Dengan AC mendesis

Di luar sana, asap segala kendaraan meracun orang-orang.

06.30 WIB

Iklan

Merdeka

Merdeka = Bebas
Merdeka = bebas dari penjajahan
Merdeka = bebas menentukan nasib sendiri

Merdeka = 31,02 juta warga negeri nuswantara tercinta ini disebut penduduk miskin.
Merdeka = 311,02 juta orang yang kebebasannya menentukan ke-ada-nya di tentukan oleh raskin, BLT, dan segala derma dari pemerintah.

Merdeka=bebas untuk mengejar masa depan yang cerah untuk semua anak nagari zamrud khatulistiwa.
Merdeka=11,7 jiwa anak negeri Kesatuan Republik Indonesia yang gemah ripah loh jinawi tidak bebas untuk bisa ikut belajar di bangku sekolah, atawa mereka terpaksa putus sekolah.

Merdeka=bebas bernalar merdeka dan berbudi nurani dan bertindak jujur untuk kemuliaan sang Khalik, diri dan sesama.
Merdeka=terjepit dan sesak oleh cekokan nalar-nalar kuasa dan budi pamrih dan tindak bertaktis.

Merdeka RI=65 tahun proklamasikan diri sebagai bangsa merdeka.

Dirgahayu 65 tahun tanah airku tercinta: Indonesia.


Tangga

Tersusun berundak-undak

ada tingkat-tingkatan

dan langkah dimulai dari undakan paling bawah, di tingkatan paling rendah, atawa sebaliknya.

Tidak dibuat lurus saja tanpa adanya undakan atau tingkatan.

Kalau tanpa undakan, itu mah namanya perosotan, bukan tangga katanya.

Hidup manusia sering kali dianalogikan berjalan di tangga.

Hidup yang bertingkat, jalan yang berundak-undak.

Karena jalannya hidup di tanggga, maka harus susah payah bergeser dari satu undakan ke undakan selanjutnya.

Tangga kehidupan, ada yang bilang nasib manusia adalah berkompetisi, the fittest the winner.

Tertapi mengapa tidak si hidup ini disamakan dengan perosotan atau papan seluncur TK saja, yang mudah jalurnya.

Tinggal meluncur, tidak perlu susah-susah naik undakan tangga.

“Sama menunggu. Tetapi berbeda”


Menjadi Orang

Bagaimana aku dapat menjadi orang besar?

”Mengapa orang besar?

Menjadi orang itu sudah keberhasilan cukup besar.”


Benar atau Salah

Kadangkala kita dibingungkan dalam persoalan salah atau benar,

perdebatan mana perbuatan benar, mana perbuatan salah.

Kadang-kadang jawabannya cukup jelas.

Kadang-kadang menjadi kabur.

Pertanyaannya: ”Bagaimana harus membedakan benar dari salah?”

Para pencari hidup menjawabnya: ”semasa hidup, hendaklah mati bagi        dirimu sendiri, mati sama sekali. Lalu bertindaklah sekehendakmu, dan tindakanmu tentu akan benar.”