Category Archives: Photo Diary

Photo Diary: Dust in Marunda

Although high voltage electrical wires crossing the Marunda, families at some neighborhood in Marunda did’t have electricity for lighting up a few months ago.

Iklan

Photo Diary 04-04-2010: Ratu Adil ….

………………………


Photo Diary 03-04-2010: Ke Parangtritis di Senja (1)

Jam 16.10 melaju dari Sleman ke Parangtritis.

Sore begitu cerah. Berjalan perlahan, berharap menyaksi matahari terbenan setibanya di Parangtritis.

Setiba di Parangtritis, bendi-bendi menyambut dan menawarkan jasa menyusur pantai berbendi.

Tetapi bermain air yang lebih menarik buat Sita.

…bersambung bag. 2


Photo Diary 03-04-2010: Ke Parangtritis di Senja (2)

Sepertinya sang matahari agak malu-malu sore itu, segerumbul awan mengiringi perjalanan matahari memasuki ufuk barat.

Konon kabarnya nama Parangtritis memiliki kesejarahan tersendiri. Kala itu, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beratus-ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (=batu) dan tumaritis (=tetesan air). Pantai yang terletak di daerah itu pun akhirnya dinamai serupa.

…bersambung bag. 3


Photo Diary 03-04-2010: Ke Parangtritis di Senja (3)

Setelah matahari pamit di langit barat, Parangtritis tidaklah sepi.

Kegiatan menikmati Parangtritis di malam hari di mulai.

Penjual wedang ronde mulai menggelar gerobaknya.

Parangtritis punya pesona sendiri berkaitan dengan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan. Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian.

…bersambung bag. 4


Photo Diary 03-04-2010: Ke Parangtritis di Senja (4)

Lesehan menikmati jagung bakar dan wedang ronde.

Plus ditemani musisi jalanan yang menembangkan keroncong atawa jazz jawa.

Sungguh keindahan Parangtritis kala senja.

****


Photo Diary 02-04-2010: Mesias?

“Satu adegan dari dramatisasi via dolorosa oleh anak-anak muda desa di Sleman”

———-

Kisah ini terkenal dituturkan secara lisan oleh para darwish atau guru.

Versi berikut adalah versi tuturan Anthony de Mello:

Seorang Guru sedang bermeditasi di dalam gua di Himalaya. Ia membuka matanya, dan melihat seorang tamu tak disangka-sangka duduk di hadapannya, yakni seorang abbas-kepala pertapaan-dari sebuah pertapaan terkenal.

“Anda mencari apa?” tanya sang Guru.

Abbas menceritakan sebuah kisah sedih. Pada suatu ketika pertapaannya itu termashur di seluruh dunia Barat. Kamar-kamar pertapaannya penuh dengan para pertapa muda dan umat berbondong-bondong dating untuk menyegarkan jiwanya. Tetapi masa-masa berat telah menimpa pertapaan. Umat tidak lagi berbondong-bondong datang untuk menyegarkan jiwanya, arus pertapa muda mengering.

Masih ada segelintir rahib bertahan dan mereka ini melakukan tugasnya dengan berat hati.

Inilah yang bapa abbas ingin tahu. “Apakah ini disebabkan oleh dosa-dosa kami, bahwa pertapaan merosot sampai keadaan sekarang ini?”

“Ya” kata sang Guru, “dosa ketidaktahuan.”

“Dan dosa bagaimana itu kiranya?”

“Seorang dari antaramu itu sang Mesias menyamar dan kamu tidak tahu akan hal ini.” Sesudah berkata itu Guru menutup matanya dan kembali bermeditasi lagi.

Selama perjalanan sulit pulang kembali ke pertapaannya, jantung abbas berdebar cepat karena memikirkan bahwasanya Mesias — ya sang Mesias sendiri — sudah kembali ke dunia, dan ada di pertapaan itu juga.

Bagaimana mungkin ia khilaf tidak mengenalinya? Dan siapa gerangan ia itu? Bruder koki? Bruder koster? Bruder ekonom? Bruder Prior? Bukan, dan bukan dia, kekurangannya terlalu menyolok, sayang! Tetapi sang Guru mengatakan, bahwa ia menyamar. Apakah cacat itu penyamarannya? Kalau memikirkan itu, setiap orang di pertapaan punya cacat. Dan salah satu dari mereka itulah Mesias!

Kembali dalam biara ia mengumpulkan para rahib dan menceritakan, apa yang sudah ia temukan. Mereka saling memandang tidak percaya. Mesias? Di sini? Tak dapat dipercaya. Tetapi ia diandaikan ada di sini menyamar. Ya, mungkin. Bagaimana seandainya itu si anu? Atau orang lain di sana itu? Atau …

Satu hal yang menjadi pasti: Kalau Mesias ada di sana menyamar, tentu mereka tidak bakal mengenalnya. Maka mereka berusaha memperlakukan setiap orang dengan hormat dan tanggapan baik.

“Kamu tidak pernah tahu,” kata mereka kepada diri mereka sendiri, bilamana mereka bergaul satu sama lain di antara mereka, “barangkali inilah orangnya.”

Akibat semua ini, suasana di pertapaan menjadi penuh semangat kegembiraan dan saling mengasihi. Segera sesudahnya, berpuluh-puluh pertapa muda ingin masuk menjadi anggota pertapaan — dan sekali lagi umat berbondong-bondong dating untuk menyegarkan jiwa mereka karena nyanyian suci dan riang dari para rahib yang mengumandangkan semangat cintakasih.