Category Archives: Photo Diary

Hujan. Tugu Yogya. Kali Code

Hampir setiap hari, Yogyakarta hujan deras.

Hujan yang sangat deras  ini membawa was-was bagi warga Yogya yang tinggal di sekitar kali Code.

Was-was dan berjaga terhadap banjir lahar dingin di Kali Code.

Beberapa foto berikut merekam Tugu Yogya dan Kali Code di musim hujan ini.

Iklan

Geliat Pasar Pakem Setelah Letusan Merapi

Minggu pagi lalu, 21 Nov 2010, saya melewati Pasar Pakem, Sleman.

Wah rupanya beberapa pedagang di Pasar Pakem sudah mulai berjualan.

Setelah BVMBG menurunkan radius daerah bahaya Merapi untuk wilayah sleman menjadi 15km untuk sisi timur sungai Boyong dan 10km untuk sisi barat sungai Boyong, warga lereng Merapi yang sudah lebih dua minggu harus mengungsi kembali ke rumah.

 

Simbok-simbok dan para pedagang yang biasanya berjualan di Pasar Pakem, tidak tunggu lama-lama, mereka langsung bergegas membersihkan kios dan barang dagangan.

“Secepat mungkin ya bisa kembali jualan mas. Disuruh duduk terus, diam saja di pengungsian, hanya terima bantuan membuat badan menjadi pegal-pegal dan makin ‘ngelangut pikirane’  (melamun dan merana),” kata simbok Siti yang pagi itu membersihkan sisa pasir dan abu vulkanik di depan kiosnya.

 

Terlihat dari gurat wajah ‘sumringah’ simbok-simbok dan para pedagang lain yang mulai berdagang di Pasar Pakem akan  harapan menata kehidupan ke depan. Saling bersilahturahmi saat bertemu pedagang lain, obrolan tentang mengungsi di mana, kejadian lucu saat mengungsi, tidak enaknya menjadi pengungsi yang ‘dianggap’ tidak berdaya mewarnai geliat para simbok dan pedagang Pasar Pakem Minggu pagi itu.

 

–> please click on images for more stories.

 

 

 


Kinahrejo Kini

 

Rabu, Hari Raya Idhul Adha saya diajak Pak Suji, warga Kinahrejo yang saat ini mengungsi, untuk mengunjungi dusunnya, Kinahrejo.

 

Memasuki dusun Pangukrejo, saya benar-benar tidak mengenali dusun ini sekarang. Rumah, pekarangan, pohon-pohon yang dulunya hijau dan rindang mengelimuti dusun, kini semua mati, porak poranda. Hanya tersisa satu warna coklat kelabu. Ada 195 rumah di Pangukrejo dan sekarang semuanya rusak bahkan sebagian besar dari rumah tersebut musnah terterjang “wedhus gembel”

 

Mendaki sampai ujung dusun Pangukrejo, langsung dengan mudah terlihat dusun Kinahrejo. Tersisa hanya seperti tegalan sawah. Tidak ada pohon tersisa. Tidak ada kehidupan tetinggal. Tidak ada satupun dari 150 rumah warga Kinahrejo yang tersisa. Semua habis diterjang si “wedhus gembel”

 

Dulu, sebelum letusan, tidak mungkin kita bisa melihat seluruh dusun Kinahrejo langsung dari Pangukrejo, karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan rumah-rumah warga.

 

Pak Suji dan saya hanya bisa termangu melihat Kinahrejo dari ujung dusun. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Pak Suji saat itu.

 

 

Bapak dan simbok Pak Suji meninggal karena letusan Merapi 04 November 2010. Pak Suji adalah salah satu relawan pemantau Merapi di dusunnya. Seminggu sebelum letusan 26  Oktober, warga Kinahrejo sudah tahu bahwa dalam waktu dekat akan terjadi letusan Merapi. Mereka sudah siap-siap mengungsi.

 

Tetapi untuk beberapa orang ’sepuh’ Kinahrejo percaya bahwa ”Mbah Buyut (maksudnya Gunung Merapi) tidak akan membuang di ’pelataran rumahnya’ sendiri” – maksudnya Letusan gunung Merapi dan ’wedhus gembel’ dipercaya tidak akan menerjang Kinahrejo yang merupakan ’pelataran rumah’ Merapi.

 

Pak Suji tidak hanya kehilangan orang tuanya, tetapi juga keponakannya, paklik dan bulik (paman & bibi) dan sanak saudara  lain yang terlambat untuk mengungsi atau tidak mau mengungsi.

 

Pak Suji pasrah kepada kehendak Ilahi, yang menjadi pikirannya sekarang bagaimana mulai hidup baru. Dia mendengar bahwa warga Kinahrejo akan direlokasikan. Dia terima jika itu keputusannya, tetapi bagaimana dengan mencari makan untuk keluarga.

 

Di pengungsian memang tercukupi untuk kebutuhan makan. Tetapi ’normalnya’ sebuah keluaarga dengan tinggal di pengungsian kurang, kata Pak Suji. Saya butuh pekerjaan, ’nyekel duit’ (memiliki uang sendiri) untuk kebutuhan anak jajan, untuk beli bensin, untuk beli kebutuhan sendiri yang tidak disediakan di pengungsian.

“Nornale keluarga yo nguripi keluargane mas. Mboten namung nyadong bantuan,” kata pak Suji (artinya: Normalnya sebuah keluarga adalah menghidupi keluarganya. Tidak hanya menengadahkan tangan meminta bantuan). Aku mengangguk setuju dengan Pak Suji.

 

–> please klick on images for more stories.

 

 

 


Beranalog

[nikon FM2n, fuji color asa 200]

Dalam banyak kesempatan, aku lebih memilih kamera analog daripada kamera digital. Buatku, memotret dengan kamera analog memiliki kenikmatan yang sangat luar biasa. Menantangku untuk lebih bisa bereksperimen dengan kondisi yang tidak terduga. Menggedor-gedor pintu kreativitasku untuk tidak terlelap tidur.

“Menatap” [nikon FM2n, fuji color asa 200, voigtlander 58mm]

wittpal” [nikon FM2n, fuji color asa 200, nikkor 128mm f2.8 ais]

Rasa dag-dig-dig ingin tahu hasil fotonya seperti apa adalah hal lain yang mengasyikkan dengan kamera analog. Berbeda dengan kamera digital yang sudah langsung diketahui hasilnya. Memotret suatu momen menggunakan kamera analog tidak ada namanya kesempatan kedua. Kesalahan pemotretan baru diketahui setelah film dicetak.

“menjaja” [nikon FM2n, fuji color asa 200, nikkor 28mm f2.8 ais]

[nikon FE, fuji color asa 200, nikkor 28mm f2.8 ais]

“siap tampil” [nikon fm100, lucky BW asa 100, nikkor 50mm f1.4 ais]

“kau” [nikon fm10, lucky BW asa 100, nikkor 28mm f2.8 ais]


Vox Populi

Menyaksikan teman-teman buruh bergerak, aku teringat Wiji Tukul.

Seorang Buruh Masuk Toko

masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap

sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku

aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup

aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap

Wiji Tukul - 10 september 1991


Embun

Embun pagi datang di ujung pagi.

di ujung pagi embun pagi bergegas pergi.


Photo Diary: Dawn Raid

fumigation to prevent dengue fever carried out early in the morning at 4:30 AM

DHF was first reported in 1968 during an outbreak that occurred in Surabaya and Jakarta. In the epidemic of DHF, which occurred in 1998, a total of 47 573 cases of DHF were reported with 1 527 deaths. These cases were reported from 201 of 304 districts of Indonesia. Aedes aegypti is the main vector and high indices reported in the many areas of the country indicate that the vector is widespread throughout.

During 2004, cases were reported every month with a total of 78,690 and 954 deaths (CFR = 1.2%). The outbreak peaked in February and March. The reported cases from 1985-2004 indicate an increasing trend. During the last 20 years, the outbreak in 2004 was the most serious followed by the one that occurred in 1998 (72,133 cases and 1,414 deaths; CFR = 2%). Since November 2004, the number of cases has increased gradually with the peak in January 2005 (6,043 cases).

The outbreak (December 2004 to 22 February 2005) reported a total of 10,517 cases with 182 deaths (CFR = 1.73%) for all 30 provinces. The most serious outbreak occurred in DKI Jakarta province (2768 cases with CFR = 0.76) followed by Jabar (1863 cases with high CFR =2.84). Out of 16 provinces with at least 100 cases during that period, five provinces were with a CFR>2 and 13 provinces were with a CFR>1.

In 2005, Indonesia is the major contributor of dengue cases in SEAR (53%) with a total of 95,270 cases and 1298 deaths (CFR = 1.36%) reported. The caseload has increased by 17% and deaths by 36% as compared to 2004. The case load reported is the highest ever in the history of dengue in Indonesia.

Indonesia has faced major outbreak in April 1998 and March 2004. Since 2004 Indonesia reported the highest number of dengue cases among the countries in the Region.  Unlike in other years, in 2005 the outbreak started from the month of July and increases further till it peaked in the month of December. One reason may be due to several natural disasters in Indonesia in these last five years creating environment conducive for dengue vectors and also due to diversion of national priorities to more   curative and rehabilitative work post natural disasters.

In 2006 Indonesia alone reported 57% of the dengue cases and almost 70 % of the dengue deaths in SEAR (1132 deaths out of total of 1558 dengue deaths in the region). In 2006 the provinces that have reported increased dengue cases are  Aceh, Bali, Sumsel, Lampung, Kalbar, Jatim , Jabar, Gorontalo and  DKI Jakarta .   The increase is very significant in two provinces Jatim and Jabar (almost four fold as compared to 2002). The case fatality rate is as high as 5% in one province Sumsel. The provinces with CFR more than 1% are Aceh, Sumut, Riau, Kep Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jating, Jatim, Kalbar, Kateng, Kalsel, Katim, Sulut, Sulteng and Sulbar.

There is correlation between dengue cases and rainfall as studied in Indonesia.  A five year study showed that the cases start increasing after start of rainfall and significantly peaks at about 9 weeks of rainfall that is the time of the out break.