Category Archives: Perjalanan

Abdi Dalem Keraton Ngayogjakarta

Memasuki Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kita akan langsung bertemu dengan para abdi dalem kraton yang ramah dengan baju surjan warna biru tua, namanya pakaian Pranakan.

 

Saat ini ada 1200 abdi dalem Keraton Ngayogyakarta. Menjadi abdi dalem Kraton adalah pengabdian sukarela. Manunggaling kawula gusti dan sangkan paraning dumadi adalah dasar keikhlasan mengabdi di Kraton Yogyakarta, bukan etika Weberian atau perhitungan untung rugi yang dicetus Adam Smith.

 

Sikap dan laku ikhlas abdi dalem ini tersurat di pakaian Pranakan yang dikenakan oleh mereka.  Pakaian Pranakan yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana V(1820-1855) 188 tahun yang lalu, adalah surjan dengan warna biru tua yang melekat, dengan corak garis vertikal berjumlah tiga dan empat garis memiliki makna dalam.  Garis  berjumlah tiga dan empat memiliki arti Telupat yang bermakna Kewuluminangka Perpat yang artinya di rengkuh dan disaudarakan dalam satu kesatuan di kerajaan.  Sifat persaudaraan yang diharapkan adalah persaudaraan sesama abdi dalem dan persaudaraan dengan Sri Sultan raja mereka.  Abdi ingin merasa dekat dengan raja mereka, ini disimbolkan dengan pakaian pranakan yang berwarna biru tua yang artinya memiliki tekat yang kuat dan kesungguhan hati dalam pengabdian terhadap raja mereka.

 

Di dalam lingkungan Kraton abdi dalem dibagi menjadi dua; yaitu abdi dalem Punokawan dan Kaprajan.  Abdi dalem Punakawan merupakan abdi yang memiliki tugas pokok harian di lingkungan Kraton, sedangkan abdi dalem kaprajan adalah abdi dalem yang memiliki panggilan jiwa untuk mengabdi, mereka berasal dari pegawai instansi pemerintah, baik yang sudah pensiun atau masih bekerja sebagai karyawan.

Di luar abdi dalem Kraton Yogyakarta, masih ada nggak ya orang yang bekerja dengan etika keikhlasan tanpa pamrih?

Wah, sepertinya sulit menemukannya.

Iklan

Mata2 Kacamata

“beda, tapi sama”

“ala JOhn Lennon”

“ala Soekarno”

“alamak, kacamata atawa kaca hidung?”


Anak Kapuas

“Kami hidup bersama Kapuas, kami bermain bersama Kapuas”

Bermain adalah anak.

Anak adalah bermain.

Bermain itu anak.

Anak itu bermain.

Jadi untuk anak bermain prasyaratnya adalah anak.

Hanya anak yang harus ada untuk bermain.

Tidak butuh tambahan-tambahan lain.

Mereka bilang untuk anak bermain harus ada kidzania, harus ada play ground yang memenuhi syarat.

Anak bilang bermain adalah anak.

Dan tambahan-tambahan yang lain itu bukan yang dibutuhkan.

Anak adalah bermain.

Bermain adalah Anak.


Pada Prameks Terakhir


Perjalanan: Yogyakarta Kota Mural (gambar 1)

Di Photo Diary-ku tanggal 25 Feb 2010 “Selamat Pagi Yogyakarta”  aku tuliskan bahwa gallery mural yang menyambangi setiap sudut Yogya membuatku tak jemu-jemunya menjelajahi Yogyakarta.

Hari minggu pagi lalu, aku sengaja menyapa mural-mural kota Yogya untuk yang kesekian kalinya.

Berhenti di setiap mural,

Berdiam memandang karya mural para seniman.

Takjub,

Mengelitik nalar.


Perjalanan: Yogyakarta Kota Mural (gambar 2a)

Kota yang kaku dengan tembok-tembok yang seragam, bahkan tidak jarang kusam, menjadi lebih ramah untuk warga kota dengan hadirnya mural-mural kota.

Efeknya yang aku rasakan adalah rasa sebagai sesama warga yang bersolidaritas,

senyum saat berpapasan

dan bertegur sapa meski tidak saling kenal menjadi lebih nyaman dengan lingkungan mural yang mengelilingi.


Perjalanan: Yogyakarta Kota Mural (gambar 2)

Di Jogjakarta, mural mulai merebak luas di sekitar tahun 2003 seiring dengan gagasan konsep dari Apotik Komik (dikoordinasi oleh seniman publik Samuel Indratma) yang menghias kota dengan lukisan-lukisan di tembok kota dan terlebih dahulu dipresentasikan di depan walikota Jogja.

Beberapa seniman mural dari Amerika Serikat kemudian diundang untuk berpartisipasi dalam projek tersebut.