Bersekolah di Lokasi Pengungsian

15 November 2010 adalah hari yang istimewa buat Nadia Endarwati (7 tahun), karena hari ini dia mulai berangkat sekolah lagi setelah selama lebih dari 2 minggu Nadia dan 54 teman-temannya dari SD Petung, Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan Sleman harus tidak masuk sekolah disebabkan oleh letusan Gunung Merapi.

Nadia tinggal di Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan Sleman – salah satu dusun terdekat dengan puncak Merapi, jarak Kaliadem dengan puncak Merapi hanya sekitar 4 km. Letusan Merapi 26 Oktober memaksa 467 warga Kali Adem mengungsi ke Barak Pengungsian Kepuharjo, lalu pindah ke Barak pengungsian Wukirharjo dan letusan 04 Nov kembali memaksa wagra Kaliadem harus mengungsi keluar dari daerah bahaya 20 kilometer dari Merapi. Mereka mengungsi ke Stadiun Sepakbola Maguwoharjo, lalu satu hari kemudian pindah mengungsi ke Balai Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik Sleman yang jaraknya sekitar 23 KM dari Merapi.

SD Petung saat ini rata dengan tanah terterjang lahar panas Merapi. Demikian juga dengan perlengkapan sekolah Nadia dan teman-temannya hilang tersapu lahar panas Merapi. Nadia dan teman-temannya dari Kaliadem hari ini mulai bersekolah di sekolah terdekat dari tempatnya mengungsi yakni di SD Karangmloko 1. Memasuki gerbang sekolah SD Karangmloko, Nadia sempat ragu dan bertanya kepada kakak pendamping ”nanti saya punya teman tidak di sekolah ini?”. Kakak pendamping dan Ibu Bapak Guru di SD Karangmloko menyambut anak-anak dari Kaliadem dengan ramah.

Bapak kepala sekolah dan guru-guru di SD Karangmloko memsiapkan tambahan kursi dan meja untuk menampung siswa titipan dari SD Petung. Guru pun tidak lupa memperkenalkan anak-anak dari Kaliadem sebagai teman baru dan meminta siswa-siswa SD Karangmloko untuk berbagi buku pelajaran dan membantu teman-teman barunya dari Kaliadem.

Tetapi Nadia tetap merindukan sekolah asalnya SD Petung. ”Saya tetap lebih suka SD saya, SD Petung,” Kata Nadia. ”Saya juga kangen dengan teman-teman sekelasku di SD Petung.” Siswa dari SD Petung memang saat ini terpencar di beberapi tempat pengungsian di Sleman dan Yogyakarta.

Masuk ke sekolah yang baru, kelas yang asing, bertemu teman-teman baru dalam situasi yang  berbeda – tidak punya seragam, buku pelajaran, diajar oleh guru-guru yang baru yang belum pernah mereka kenal sebelumnya adalah suatu ’perjuangan’ untuk anak-anak pengungsi merapi.

Kembalinya rutinitas keseharian anak, salah satunya adalah kegiatan sekolah memang satu strategi dukungan psikososial penting untuk anak pulih dari pengalaman traumatis bencana. Akan tetapi mempersiapkan guru untuk dapat memahami ’suasana asing’ yang dialami anak-anak pengungsi dan kesiapan teman-teman di sekolah tempat menumpang adalah juga bagian penting untuk membantu anak-anak yang mengungsi untuk bisa cepat kembali ceria.

Ketika bertemu dengan kepala dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Ibu Suyamsih (27 Nov), berkaitan dengan rencana kepulangan pengungsi dari Kecamatan Cangkringan ke barak pengungsian terdekat di desa mereka, Dinas Pendidikan DIY / Sleman menyiapkan rencana pendidikan untuk siswa yang mengungsi sebagai berikut: siswa SD Srunen (155 siswa) dan SD Glagah (169 siswa) akan dititipkan ke SD Muhammadiyah Cepit, masuk siang. Siswa SD PAngukrejo (97 siswa) akan dititipkan ke SD Cancangan, dan masuk pagi. Siswa SD Petung (94 siswa) & SD Batur (128 siswa) dititipkan ke SD Umbulharjo dan masuk siang. Siswa SD Cangkringan 1 (98 siswa) yang lokasi sekolahnya  beresiko karena di tepi sungai Gendol akan dititipkan ke SD Kuwang . Siswa SD Cangkringan 2 (87 siswa) & SD Bronggang Baru (1 57 siswa) akan dititipkan ke SD Kuwang dan masuk siang.  Dan siswa SD Gungan (86 siswa)  akan dititipkan ke SD Muhammadiyah Kregan dan masuk siang.

Belajar dari pengalaman anak-anak Kaliadem di SD Karangmloko, yang juga harus disiapkan oleh Dinas Pendidikan adalah kesiapan guru untuk mengajar anak dalam situasi mengungsi.

—> silakan klik  pada gambar untuk cerita lebih lanjut.

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: