Kinahrejo Kini

 

Rabu, Hari Raya Idhul Adha saya diajak Pak Suji, warga Kinahrejo yang saat ini mengungsi, untuk mengunjungi dusunnya, Kinahrejo.

 

Memasuki dusun Pangukrejo, saya benar-benar tidak mengenali dusun ini sekarang. Rumah, pekarangan, pohon-pohon yang dulunya hijau dan rindang mengelimuti dusun, kini semua mati, porak poranda. Hanya tersisa satu warna coklat kelabu. Ada 195 rumah di Pangukrejo dan sekarang semuanya rusak bahkan sebagian besar dari rumah tersebut musnah terterjang “wedhus gembel”

 

Mendaki sampai ujung dusun Pangukrejo, langsung dengan mudah terlihat dusun Kinahrejo. Tersisa hanya seperti tegalan sawah. Tidak ada pohon tersisa. Tidak ada kehidupan tetinggal. Tidak ada satupun dari 150 rumah warga Kinahrejo yang tersisa. Semua habis diterjang si “wedhus gembel”

 

Dulu, sebelum letusan, tidak mungkin kita bisa melihat seluruh dusun Kinahrejo langsung dari Pangukrejo, karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan rumah-rumah warga.

 

Pak Suji dan saya hanya bisa termangu melihat Kinahrejo dari ujung dusun. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Pak Suji saat itu.

 

 

Bapak dan simbok Pak Suji meninggal karena letusan Merapi 04 November 2010. Pak Suji adalah salah satu relawan pemantau Merapi di dusunnya. Seminggu sebelum letusan 26  Oktober, warga Kinahrejo sudah tahu bahwa dalam waktu dekat akan terjadi letusan Merapi. Mereka sudah siap-siap mengungsi.

 

Tetapi untuk beberapa orang ’sepuh’ Kinahrejo percaya bahwa ”Mbah Buyut (maksudnya Gunung Merapi) tidak akan membuang di ’pelataran rumahnya’ sendiri” – maksudnya Letusan gunung Merapi dan ’wedhus gembel’ dipercaya tidak akan menerjang Kinahrejo yang merupakan ’pelataran rumah’ Merapi.

 

Pak Suji tidak hanya kehilangan orang tuanya, tetapi juga keponakannya, paklik dan bulik (paman & bibi) dan sanak saudara  lain yang terlambat untuk mengungsi atau tidak mau mengungsi.

 

Pak Suji pasrah kepada kehendak Ilahi, yang menjadi pikirannya sekarang bagaimana mulai hidup baru. Dia mendengar bahwa warga Kinahrejo akan direlokasikan. Dia terima jika itu keputusannya, tetapi bagaimana dengan mencari makan untuk keluarga.

 

Di pengungsian memang tercukupi untuk kebutuhan makan. Tetapi ’normalnya’ sebuah keluaarga dengan tinggal di pengungsian kurang, kata Pak Suji. Saya butuh pekerjaan, ’nyekel duit’ (memiliki uang sendiri) untuk kebutuhan anak jajan, untuk beli bensin, untuk beli kebutuhan sendiri yang tidak disediakan di pengungsian.

“Nornale keluarga yo nguripi keluargane mas. Mboten namung nyadong bantuan,” kata pak Suji (artinya: Normalnya sebuah keluarga adalah menghidupi keluarganya. Tidak hanya menengadahkan tangan meminta bantuan). Aku mengangguk setuju dengan Pak Suji.

 

–> please klick on images for more stories.

 

 

 

Iklan

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: